Header Pages

Showing posts with label My Words. Show all posts
Showing posts with label My Words. Show all posts

Tuesday, February 21, 2012

...and I'm Sad



Sedih adalah ketika aku merasa bahagia, tapi tidak bisa berbagi denganmu...
Sedih adalah ketika aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, tapi kamu tidak ada...
Sedih adalah ketika kamu tidak ada, tapi kebahagiaan sedang menyelimutiku...

So, that's why I'm sad now...



sumber gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimU3M4NHeXeKuOSBx1uWIIYIBN2y7JzmJqPf3RQd07yD4FDDztuMJVi0mOyZwSIbY0JxPKo_yI6dt9Rj5PLT56jKiP3QDLuXeAZfkZ2OoYPK5gpwpuFFJERZpozSghdvioogvgIFXBY-E/s1600/sad_1.jpg

Friday, January 13, 2012

Because I Have You

Di saat aku sedang benar-benar terpuruk, dengan ujian yang datang bertubi-tubi seperti ini. Saat ujian yang satu belum berhasil kuselesaikan, dan datang lagi ujian yang baru, kemudian datang lagi. Aku bingung. Benar-benar bingung. Bingung untuk mengambil keputusan ujian mana dulu yang harus kuselesaikan. Bingung karena aku tak bisa meceritakan "soal" ujian itu. Bingung akan semuanya.
Dari situ aku berusaha berpikir dengan logikaku dan mengikuti kata hatiku, untuk mengambil suatu keputusan. Awal-awalnya mungkin aku salah mengambil keputusan, terlalu gegabah mungkin, atau karena aku tidak membuka pikiran untuk meminta pertolongan kepada orang mengenai "soal" ujian itu. Mungkin karena aku yang terlalu sombong, yang terlalu percaya diri bahwa aku sanggup menyelesaikan semua ujian ini sendiri. Tapi aku salah. Aku masih butuh orang-orang dan aku selalu butuh Tuhan. Untuk membantuku, untuk menemaniku, untuk menyemangatiku, dan untuk berbagi.
Dan sampai saat ini ujian-ujian itu pun masih belum berhasil aku selesaikan. Tapi sekarang aku merasa semua ujian yang sedang aku jalani sekarang terasa lebih mudah. Karena Tuhan memberiku sesuatu yang sangat manis, sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang benar-benar membuat aku harus bisa tetap menjalani semua ujian ini dengan tegar sampai berhasil.

Because I have amazing friends...

Teman-teman yang hebat. That's the greatest gift when I'm down like this... I don't know how to say thank you. I think say thank you won't enough at all. They've helped me through this all, accompany me though they aren't with me. They inspire me, they give me the motivation, they give me the spirit. 


And thank you to Allah, because I have You, so I can have amazing friends like them...

Thursday, January 5, 2012

Freezing Point


Pernah merasa semuanya kacau?
Pernah merasa semuanya tidak berjalan sesuai yang diharapkan?
Pernah merasa seperti tak ada semangat lagi?
Pernah merasa seperti berada di titik kerapuhan, kesedihan, dan kekecewaan, yang semua menjadi satu?
Pernah merasa sesak karena tak mampu mengungkapkan?
Pernah merasa ingin bercerita namun terlalu sulit untuk berkata?


Aku pernah. Dan aku sedang mengalami itu semua.

Walau mungkin semua terlihat baik-baik saja.
Walau mungkin semua terlihat semangat-semangat saja.
Walau mungkin semua terlihat bahagia-bahagia saja.

Tapi ternyata...
Aku tak sekuat itu.
Aku tak setegar itu.

Aku masih bisa rapuh.
Aku masih bisa sedih.

Tapi aku yakin, semuanya akan baik-baik saja. Karena aku masih punya Tuhan. Yang selalu berada di nurani aku.
  
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." -Al Insyirah (94) : 5


Wednesday, November 2, 2011

Menikmati "Ujian"

Setiap manusia pasti pernah diuji oleh-Nya. Baik diuji berupa hal-hal yang menyenangkan ataupun masalah-masalah yang menyedihkan. Setiap ujian yang dialami manusia berbeda-beda, tergantung pada level individu masing-masing. Semakin tinggi level mereka, maka semakin berat pula ujian yang dihadapi.
Well, ada perkataan yang saya kutip dari Om Pepeng sewaktu saya menonton acara U2 (Uje & Udin) di Trans 7. Kira-kira seperti ini, "Waktu kita kelas 1 SD, kita ujian dengan soal kelas 1 SD pula. Bukan soal kelas 6 SD kan. Guru pun bisa searif dan sebijaksana itu. Maka Allah yang Maha Arif dan Maha Bijaksana pun akan memberikan ujian sesuai dengan level hamba-Nya." Ya, Allah tidak akan memberikan ujian yang lebih berat dari yang sanggup kita tanggung. Mungkin dari diri kita pernah bertanya-tanya, mengapa Allah memberikan ujian seperti ini kepada kita, mengapa tidak orang lain saja yang mengalaminya? Karena Allah yakin dan percaya bahwa kita sanggup menyelesaikannya, yang orang lain belum tentu sanggup. Yakinlah bahwa setiap ujian itu dapat terselesaikan. Manusia saja membuat gembok pasti bersama kuncinya. Begitu juga Allah yang pasti memberikan ujian beserta penyelesaiannya. Yang penting kita tetap berada pada iman dan takwa-Nya, tetap berdoa, dan tetap berusaha untuk menyelesaikannya. Pandanglah semua ujian yang diberikan oleh Allah dengan perspektif yang indah. Maka akan mudah kita menikmati semua ujian itu.
Ada satu kutipan lagi dari Ustadz Jeffry yaitu, "Ujian terbesar laki-laki adalah ketika mereka sedang berada di puncak kejayaan. Sedangkan ujian terdahsyat wanita adalah ketika suami mereka sedang terpuruk."

Yup, di sini saya hanya ingin berbagi saja dengan teman-teman yang sedang diuji. Bukan bermaksud sok tahu atau apapun. Karena saya pun sedang diuji dengan permasalahan yang datang dengan beruntun.
Let's keep strong, guys... Allah always beside us :)

Thursday, June 2, 2011

Tidak Harus Selalu Jalan Itu Kan?

source: http://romiswadesi.files.wordpress.com/2010/07/road-not-taken.jpg
Mengapa harus selalu terkekang dalam jalan pikiran yang seperti itu? Sekolah, Tamat, Kuliah, Lulus, Kerja, Nikah, Mati. Aku nggak mau harus selalu dengan jalan seperti itu, apalagi hanya demi status sosial dengan opini masyarakat yang tidak harus selalu ditanggapi. Boleh mengarahkan, namun tetap aku sendiri yang memilih dan menentukan.Aku masih muda. Aku masih punya mimpi, punya keinginan, punya harapan, punya cita-cita, dan punya obsesi, yang ingin sekali aku wujudkan.

Sebentar lagi, Insya Allah aku lulus kemudian wisuda. Ada dua jalan yang kemudian aku harus pilih. Melanjutkan kuliah atau kerja. Dan aku pilih kerja. Aku kerja untuk orang tuaku. Tapi aku tidak mau sekedar bekerja. Aku mau kerja di tempat yang aku nyaman dan bisa menikmati pekerjaan itu. Bekerja tidak sekedar untuk mendapatkan uang demi bertahan hidup, tapi harus ada passion yang bisa membuat aku bahagia.

Di umurku yang sekarang mungkin aku mulai berpikir sedikit idealis, berjalan dengan pikiran-pikiran yang menurutku benar, dan tidak mau berdiam di alur yang biasa.
Aku masih ingin senang-senang, senang-senang di sini bukan berarti hura-hura atau berfoya-foya, bukan. Tapi masih ingin hidup dengan kenyamanan, tidak dalam keterkekangan atau tekanan.

Sunday, May 15, 2011

Ketika Aku Menulis

Ketika aku menulis...
Menumpahkan perasaan yang terbesit dalam hati. Perasaan di puncak bahagia, di jurang kesedihan, di dunia cinta, ataupun di lembah hitam patah hati. Meninggalkan jejak-jejak luapan hati. Tercurah, tanpa takut akan meluap.
 
Ketika aku menulis...
Menuangkan pikiran yang terlintas dalam otak. Ide-ide yang masuk akal ataupun tidak normal. Melalui pola pikir yang terkadang subjektif tanpa memperdulikan paradigma seseorang atau keobjektifan aturan. Benar-benar olahan dari sudut pandangku, tanpa ikatan.

Wednesday, April 20, 2011

When We Should Look at The Kids



Grow up is definite, but mature is choice.
Setiap orang pasti bertambah umurnya. Namun, apakah dengan bertambahnya umur memastikan bahwa orang tersebut akan bersikap lebih dewasa juga? Jawabannya tentu saja tidak. Karena untuk bersikap dewasa merupakan sebuah pilihan. Yang tidak semua orang mengambil pilihan itu. Dapat terlihat di kehidupan sehari-hari kita bahwa, “adult is not always mature.” Bahkan terkadang anak-anak jauh lebih bersikap dewasa dalam menyikapi sesuatu. Salah jika mengatakan seorang dewasa yang tidak bersikap dewasa menyebutnya seperti anak-anak. Tidak dewasa bukan berarti anak-anak. Karena menurut saya, anak-anak jauh lebih baik dari seorang dewasa yang tidak bersikap dewasa. Mengapa saya berpendapat seperti itu?

Thursday, March 24, 2011

Kids and The Time

Anak kecil, yang tersenyum tanpa beban
Anak kecil, yang masih bersih tanpa dosa
Anak kecil, yang tertawa tanpa memendam rasa sakit
Anak kecil, yang menikmati hidup dengan kegembiraan

Terkadang aku iri, ingin kembali ke masa-masa itu...

Thursday, December 30, 2010

Just One Word, "Indonesia"

Indonesia menang 2-1, tapi ironinya kita harus kalah agregate 2-4 yang akhirnya kemenangan harus menjadi milik Malaysia.
Selamat untuk kemenangannya, saya akui kalian bermain bagus, terutama untuk sang kiper, Khairul Fahmi, dengan penyelamatan-penyelamatannya yang begitu hebat.

Jujur saja, saat gawang Markus kebobolan oleh Safee, saya udah nggak mau nonton lagi. Bukan karena pesimis, tapi lebih karena tidak tega melihat wajah-wajah kesedihan dan kekagetan supporter Indonesia dan para pemain di stadion GBK. That's it. Tapi sebenarnya, saya sangat kagum dan salut terutama dengan supporter yang masih menggebu-menggebu, yang masih semangat berteriak-teriak "Indonesia, Indonesia!", yang masih memiliki rasa optimis tinggi dengan keyakinan bahwa Indonesia dapat membalikan keadaan dan menjadi pemenang.

Kekalahan...
Bukan berarti kita tidak menang
Bukan berarti kita pecundang
Bukan berarti kita harus terus bersedih dan meratapinya
Bukan berarti kita harus memaki lawan
Bukan berarti kita harus kehilangan rasa optimis
Bukan berarti kita harus kehilangan nasionalisme


Tapi kekalahan adalah proses pendewasaan. Untuk belajar menerima suatu kondisi bahwa lawan memang lebih pantas menerima kemenangan. Dan terutama, untuk pembelajaran bahwa mungkin ada suatu sikap yang harus diperbaiki agar menjadi lebih baik.

Untuk pelatih Riedl dan Firman cs, tetaplah bersemangat. Kekalahan ini bukanlah ending. Saya sangat yakin bahwa kalian sudah berusaha untuk bermain sangat hebat demi memberikan suatu tawa dan spirit kepada masyarakat Indonesia. Terus berusaha bermain lebih hebat untuk memberikan suatu kebanggan kepada kami semua, bangsa Indonesia.

Dan untuk seluruh masyarakat Indonesia, jangan membuat kekalahan ini menghilangkan rasa optimis kita. Jangan hanya sampai rasa nasionalisme kita hanya 90 menit di lapangan saja. Jangan seperti itu. Tetaplah menjadi bangsa dengan rasa optimis dan nasionalisme tinggi agar negeri kita bisa menjadi lebih baik.

Terakhir, satu hal yang sudah saya dapatkan dari peristiwa ini: Lihatlah, betapa hebatnya sepakbola. Bisa menyatukan semua perbedaan dengan menyerukan satu nama, "INDONESIA"

Friday, December 10, 2010

Nikah Muda


Apa yang ada di benak kalian, terutama untuk para remaja dewasa, saat mendengar kata 'nikah muda'?
Well, mungkin sebagian orang akan berkata, "Huah, mau..." atau ada juga yang akan berkata, "Ngapain sih nikah muda?"
Oke, pro dan kontra tentang nikah muda akan selalu ada. Tergantung mainset masing-masing individu.
Hmmm, kenapa sekarang aku menulis masalah nikah muda? Well, karena aku pikir sekarang lagi 'musim' banget nikah muda. Nggak hanya di kalangan artis saja, seperti Rifky Balweel dan Risti Tagor yang beberapa bulan lalu baru aja nikah. Dan sebentar lagi ada pasangan Irwansyah sama Saskia Sungkar. Di kampus aku aja, udah ada beberapa mahasiswa yang mau nikah, udah nikah, bahkan udah punya anak pula. Oh my God, aku belum bisa ngebayangin aku punya anak di umur segini.

Well, sebenarnya nggak ada yang salah dengan nikah muda. Kalau kita udah siap secara mental dan materi, why not? Aku juga mau kalau tiba-tiba dilamar sama dosen favoritku yang udah mapan itu trus nikah abis lulus D3 ini, aku mau kok. Asal nanti ngebolehin aku untuk kerja sama nerusin kuliah lagi aja. Hehehe.
Tapi kalo ada yang beranggapan kurang setuju sama nikah muda juga nggak salah kok. Mungkin mereka beranggapan ingin mapan atau mencapai impian terlebih dahulu, baru nikah.

Sebenarnya aku pengen nikah di umur yang nggak terlalu muda untuk perempuan. Honestly, aku pengen nikah di umur 25 tahun. Soalnya nggak hanya kesiapan aku aja yang aku pikirin. Sebagai anak pertama, aku ingin bisa membantu orang tuaku dulu. Kerja dulu cari duit yang banyak, baru nikah. Itu rencana aku. Tapi ya, kayak yang udah aku bilang, kalo tiba-tiba ada yang ngelamar dan si pria sudah mapan lahir batin, kenapa nggak? :D

Intinya, nggak ada yang salah dengan nikah muda. Selama pasangan tersebut sudah siap lahir batin, kenapa nggak.
Tapi kalau pun emang nggak mau nikah muda juga nggak apa-apa. Semua pilihan itu ada di tangan kalian :)

Saturday, July 31, 2010

Dunia Maya, Versi Saya

Dunia maya, dunia yang hampir semua orang menjelajahinya, melakukan sesuatu di sana seperti di dunia nyata.

Saya ingin menulis sesuatu tentang dunia maya, dunia maya menurut versi aku.
Dunia maya adalah dunia yang terkadang sangat menyakitkan. Ok well, sebenarnya kita sendiri yang membuat dunia maya menjadi menyakitkan. Saya sadar itu.
Kamu pernah membuka-buka profil seseorang di Facebook? Kamu mencari-cari tahu apa saja yang dia lakukan, status dia apa, dia mengomentari apa saja di status orang, dia memberi wall ke siapa. Pasti beberapa dari kalian pernah melakukan hal itu kan? Hayo ngaku, ngaku! Hehehe.
Honestly, saya pernah melakukan hal itu. Well, sampai sekarang pun terkadang masih sering melakukan hal itu. Terutama kepada orang yang saya suka :)
Dan setelah mengetahui fakta sebenarnya dia habis melakukan apa saja di dunia maya, rasa penasaran saya berganti dengan rasa menyakitkan.
Sering saya mengalami hal itu, makanya terkadang saya mencoba-coba menahan diri untuk tidak membuka profil 'dia' di social networking. Well, sangat berat, karena rasa penasaran saya yang sangat tinggi.

Dan sekarang, saya sedang mencoba mengakhiri rasa ini, dimulai untuk tidak membuka-buka profilnya di dunia maya.
Let's fight :)